Poin yang diperiksa dalam Pemeriksaan kesehatan tahap pertama meliputi:
1. Pemeriksaan fisik, yaitu pemeriksaan yang dilakukan mulai dari kepala sampai kaki.
2. Pemeriksaan penunjang/laboratorium, berupa darah lengkap, kimia darah, urin lengkap, Foto Roentgen, EKG.
Gelang Risti adalah gelang yang diberikan kepada jemaah haji yang memiliki risiko kesehatan
Pemberian gelang terhadap jemaah haji bertujuan untuk mengidentifikasi jemaah haji secara aktif, sehingga jemaah haji dapat memahami kondisi kesehatannya dan dapat melakukan kegiatan preventif dan pengendalian faktor risiko kesehatan yang jemaah haji miliki secara proaktif
Gelang berwarna merah merupakan tanda jemaah haji berusia 60 tahun atau lebih dengan penyakit.
Gelang berwarna hijau merupakan tanda jemaah haji berusia 60 tahun atau lebih tanpa penyakit
Gelang berwarna kuning merupakan tanda jemaah haji berusia dibawah 60 tahun dengan penyakit
Jemaah haji berusia dibawah 60 tahun tanpa penyakit
Pembinaan masa tunggu adalah proses pembinaan kesehatan yang dilakukan sejak Jemaah haji melakukan pemeriksaan kesehaan tahap pertama ketika mendaftar haji
Yang dilakukan pembinaan masa tunggu adalah semua jemaah baik risti dan jemaah non risti
Pembinaan kesehatan masa tunggu dilakukan oleh Puskesmas/Rumah Sakit dikoordinir oleh dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.
Kegiatan Pembimbingan kesehatan terdiri dari: konseling kesehatan, peningkatan kebugaran jasmani, pemanfaatan upaya kesehatan berbasis masyarakat dan kunjungan rumah
Kegiatan penyuluhan terdiri dari : penyuluhan kesehatan jemaah haji, penyebarluasan informasi dan pemanfaatan media massa.
Pembinaan masa tunggu bertujuan agar status kesehatan jemaah haji dapat ditingkatkan mencapai istithaah kesehatan.
Kegiatan pembinaan masa tunggu harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan program kesehatan melalui pendekatan keluarga.
Pendekatan keluarga pada pembinaan kesehatan proses pemebinaan kesehatan yang berfokus pada penyelenggaraan yang terintegrasi program kesehatan dengan melibatkan keluarga jemaah haji.
Pengukuran kebugaran menggunakan metode rockport walking test atau six minute walking test.
Pemeriksaan kesehatan tahap kedua bertujuan untuk menentukan status istithaah kesehatan jemaah haji
Jawaban: Perbedaannya adalah: a. waktu pemeriksaan: - tahap pertama dimulai 2 tahun sebelum estimasi keberangkatan sampai 1 bulan sebelum keberangkatan jemaah haji tahun berjalan.(contoh tabel waktu pemeriksaan) - tahap kedua dimulai setelah pembinaan masa tunggu sampai 3 bulan sebelum keberangkatan. b. Pemeriksaan gula darah: - Tahap pertama dilakukan pemeriksaan gula darah sewaktu - Tahap kedua dilakukan pemeriksaan gula darah puasa dan gula darah 2 jam pp. c. Penetapan diagnosis : - Tahap kedua terdapat rekomendasi dari dokter spesialis d. Rekomendasi : - Tahap pertama Risti dan Non Risti - Tahap Kedua ada 4 kriteria penetapan istithaah
Berita acara penetapan istithaah kesehatan ditandatangani oleh ketua tim penyelenggara kesehatan haji kabupaten/kota
Yang dimaksud pendamping bisa berupa: orang, alat kesehatan, obat-obatan
Pembinaan masa keberangkatan adalah pembinaan yang dilakukan kepada jemaah haji setelah jemaah haji melakukan pemeriksaan kesehatan tahap kedua sampai sebelum masuk asrama haji.
Tim Penyelenggara Kesehatan Haji Kab/Kota, termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit, dikoordinasikan oleh Dinas Kesehatan Kab/kota.
Kegiatan Pembimbingan kesehatan terdiri dari: konseling kesehatan, peningkatan kebugaran jasmani, pemanfaatan upaya kesehatan berbasis masyarakatdan kunjungan rumah
Kegiatan penyuluhan terdiri dari : penyuluhan kesehatan jemaah haji, penyebarluasan informasi dan pemanfaatan media massa.
Pembinaan masa keberangkatan bertujuan agar status kesehatan jemaah haji dapat ditingkatkan dan dipertahankan status istithaah kesehatannya serta mempersiapkan jemaah haji menghadapi kondisi lingkungan dan aktifitas jemaah haji di arab saudi.
Puskesmas atau klinik atau rumah sakit yang telah melakukan pemeriksaan kesehatan tahap kedua, dengan melibatkan lintas program dan lintas sektor, organisasi masyarakat termasuk para tokoh/pembimbing agama dan/atau organisasi profesi.
Jemaah haji yang memiliki kriteria : a. Memenuhi syarat istithaah kesehatan haji. b. Memenuhi syarat istithaah kesehatan haji dengan pendampingan. c. Tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan haji untuk sementara.
Jemaah haji dapat mengikuti program Posbindu yang dibentuk oleh masyarakat dan dibina oleh Puskesmas. Program Posbindu akan memberikan pembinaan kesehatan, mengontrol tekanan darah, memeriksa Gula Darah Sewaktu (GDS), lingkar perut, Berat Badan (BB), Tinggi Badan (TB) dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Dengan memanfaatkan Posbindu jemaah haji akan dipantau kondisi kesehatannya secara berkala yang terintegrasi dengan Puskesmas.
Materi Penyuluhan antara lain : 1) Perilaku hidup bersih dan sehat antara lain melalui cuci tangan pakai sabun, penggunaan masker, tidak merokok, istirahat yang cukup.2) Kebugaran jasmani contoh senam, jalan kaki, peregangan. 3) Makanan bergizi, diet sesuai kondisi kesehatan dan pantangan makanan bagi penyakit tertentu yang diderita jemaah haji. 4) Mengelola stress. 5) Penyakit-penyakit yang banyak diderita oleh jemaah haji. 6) Penyakit-penyakit yang bisa terjadi di Arab Saudi antara lain heat stroke, dehidrasi, Penyakit menular yang berpotensi wabah saat di Arab Saudi antara lain Penyakit meningitis, diare, penyakit virus Zika dan penyakit pernapasan (SARS, MERS-CoV, Ebola). 7) Cara penggunaan toilet di pesawat, pondokan, dan tempat-tempat umum. 8) Kesehatan di penerbangan meliputi cara mengatasi barotrauma (dengan mengunyah permen), banyak minum dan stretching (peregangan) di pesawat.
Kegiatan terpadu dalam masa keberangkatan antara lain : 1. Pengukuran kebugaran dilaksanakan oleh program kesjaor, PTM, Petugas pemeriksa, petugas siskohatkes. 2. Manasik kesehatan haji dilaksanakan oleh program gizi, promkes, keswa, pengelola kesehatan haji dan petugas siskohatkes serta lintas sektor.
Pemeriksaan kesehatan tahap ketiga dilakukan saat Jemaah Haji masuk Asrama Haji.
Rumah sakit rujukan Jemaah haji adalah semua rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan
Jemaah haji yang sakit mendapat pelayanan rawat inap di Rumah sakit sesuai skema JKN
Pelayanan Kesehatan di Embarkasi/Debarkasi meliputi pelayanan Rawat Jalan, Rujukan, Pemeriksaan ICV, Pelayanan Farmasi, Pelayanan Ambulan,Laboratorium.
Sesuai Permenkes No 62 tahun 2016 pasal 9 ayat 3 Dalam hal Jemaah Haji sebagai peserta program Jaminan Kesehatan Nasional, maka memperoleh manfaat pelayanan kesehatan komprehensif sesu
Pembinaan kesehatan untuk Jemaah haji berusia lanjut terintegrasi dengan program kesehatan berbasis keluarga dan prolanis (program pengelolaan penyakit kronis)
Istithaah Kesehatan Jemaah Haji adalah kemampuan jemaah haji dari aspek kesehatan yang meliputi fisik dan mental yang terukur dengan pemeriksaan dan pembinaan yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga jemaah haji dapat menjalankan ibadahnya sesuai tuntunan agama Islam.
Istithaah kesehatan penting Karena Ibadah haji merupakan rangkaian ibadah yang melibatkan aktifitas fisik, sehingga Jemaah haji harus mampu secara fisik dan rohani agar dapat melaksanakan rangkaian ibadah haji dengan baik dan lancar sesuai dengan ajaran Agama Islam.
Jemaah haji dapat melakukan Pemeriksaan kesehatan di Puskesmas atau rumah sakit atau klinik yang bekerjasama dengan BPJS.
Penyakit yang perlu diwaspadai selama menjalankan ibadah haji adalah Diare, Dehidrasi, heat stroke, MERS-CoV, Ebola, Zika dan meningitis
Jemaah haji dengan status risiko tinggi harus dilakukan pembinaan kesehatan, berupa : 1 Konseling kesehatan (dilakukan di Puskesmas atau rumah sakit atau saat kunjungan rumah oleh dokter keluarga) 2 Penyuluhan Kesehatan 3 Mengikuti latihan kebugaran jasmani