Seleksi Tenaga Penunjang Kesehatan Tahun 1440 H 2019 M

Thu, 07/03/2019 07:46:27   | Dilihat : 1200   Penulis : Pusat Kesehatan Haji

Kementerian Kesehatan mempersiapkan pelaksanaan penyelenggaraan kesehatan haji dengan melakukan seleksi penerimaan tenaga penunjang kesehatan tanggal 7-8 Maret 2019 bertempat di Hujaz, Jeddah untuk menjadi tenaga sopir ambulance, pendamping jemaah sakit, tenaga kebersihan dan tenaga administrasi.

Para peserta yang mendaftar adalah Warga Negara Indonesia yang tinggal di Arab Saudi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Noer Halimah (31 tahun) salah seorang Warga Negara Indonesia kelahiran Sampang, Madura yang sudah 10 tahun tinggal di Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga di Jeddah, untuk seleksi tahun ini ia mendaftar menjadi Pendamping Orang Sakit (POS). Berbekal pengalaman kerja pada 2017 dan 2018, Halimah panggilan akrabnya, berharap dapat bertugas kembali menjadi tenaga pendamping orang sakit. “Saya sangat bahagia jika Jemaah sakit yang saya dampingi sembuh (dari sakitnya) dan bisa beribadah kembali”. Demikian diceritakan pengalaman saat menjadi pendamping orang sakit. Bukan tidak ada kendala, terkadang dia mendapatkan Jemaah yang kurang semangat untuk sembuh. “Saya selalu merayu dan memberi semangat ke pasien untuk sembuh supaya bisa ibadah kembali”. Dia berharap bila ada keluarga atau rekannya yang dirawat agar sering ditengok karena membantu bagi yang dirawat untuk sembuh. “Kalau saya melihat ada pasien yang emergency maka saya langsung menghubungi dokter atau perawat yang menangani pasien,” demikian kata Halimah.

“Sebagai petugas pendamping orang sakit harus sabar dan harus didasari rasa mengabdi yang tinggi” demikian tutur dari Aisyah (35 tahun) saat menceritakan pengalaman menjadi POS tahun 2017-2018 di Madinah dan Makkah. Ibu asal Banjar Kalsel ini telah 10 tahun bekerja di Arab Saudi sebagai pembantu ruumah tangga, merasa terpanggil lagi dan ingin ikut menjadi POS di musim haji 2019. Saat diwawancara, Aisyah mampu menjelaskan secara baik tugas sebagai POS yang meliputi memberi makan, memberi obat, memandikan pasien, membersihkan tempat tidur dan menghitung jumlah linen yang yang kotor.

Proses seleksi yang dilakukan Pusat Kesehatan Haji meliputi seleksi administrasi, wawancara, dan praktik. Proses administrasi dibantu dengan KJRI agar tenaga yang akan bertugas tidak sedang bermasalah hukum. Pada saat wawancara, peserta harus mampu memahami bahasa Arab dan Indonesia dengan baik, juga harus mampu menjelaskan tugas dan kewajibananya serta memiliki pengetahuan PHBS dan membuat laporan.

“Secara khusus, mereka yang akan menjadi pendamping orang sakit harus bisa memahami apa yang harus dilakukan, antara lain menyajikan dan menyuapi makanan kepada pasien, mengganti sresi yang kotor, mengganti pampers, memakaikan baju, bahkan harus bisa mempromosikan hidup sehat bagi pasien” demikian penjelasan dr. Eka selaku Kapuskeshaji saat meninjau pelaksanaan proses seleksi. Pengendalian obat dan aspek-aspek yang harus diperhatikan ketika pasien dirawat juga menjadi kompetensi khusus yang harus dikuasai pendamping orang sakit. (RK)